close
Lompat ke isi

Aksara Kawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Akṣara Kawi
𑼄𑼒𑽂𑼰𑼬𑼒𑼮𑼶
BERJAYA
Jenis aksara
BahasaJawa Kuno, bahasa Sanskreta, Melayu Kuno, Bali Kuno, Sunda Kuno, Khmer Kuno
Periode
abad ke-8 hingga 16 M
Aksara terkait
Silsilah
Menurut hipotesis hubungan antara abjad Aramea dengan Brahmi, maka silsilahnya sebagai berikut:
Dari aksara Brahmi diturunkanlah:
Aksara turunan
Bali
Batak
Baybayin
Bugis
Incung
Jawa
Lampung
Makassar
Sunda
Ulu
Pengkodean Unicode
U+11F00–U+11F5F
 Artikel ini mengandung transkripsi fonetik dalam Alfabet Fonetik Internasional (AFI). Untuk bantuan dalam membaca simbol AFI, lihat Bantuan:Pengucapan. Untuk penjelasan perbedaan [ ], / / dan  , Lihat IPA § Tanda kurung dan delimitasi transkripsi.

Aksara Kawi, dikenal juga sebagai aksara Jawa Kuno, adalah sebuah aksara historis turunan Brahmi yang banyak digunakan di seantero Nusantara antara abad ke-8 hingga 16 M. Peninggalan beraksara Kawi terutama banyak ditemukan di Jawa, tetapi begitu peninggalan Kawi juga telah ditemukan di Sumatra, semenanjung Melayu, Bali, Thailand, dan Filipina. Aksara Kawi kerap digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa Kuno, tetapi begitu tulisan Kawi yang keseluruhan maupun sebagiannya mengandung bahasa Sanskreta, Melayu Kuno, Bali Kuno, Sunda Kuno, dan Khmer Kuno juga telah ditemukan.[1][2]

Aksara Kawi merupakan hasil perkembangan berangsur-angsur dari aksara 'Pallawa' (atau aksara 'Brāhmī selatan akhir')[a] yang penggunaanya tersebar ke Asia Tenggara dari India selatan dalam arus jamak sejak abad ke-4 masehi.[b] Dibanding aksara 'Pallawa' yang bersifat lithic[c] dan monumental, aksara Kawi cenderung lebih bersifat kursif dengan bentuk-bentuk yang lebih kentara menunjukkan teknik penulisan lontar.[5][6] Sejak pertengahan abad ke-8 M, aksara Kawi sederhana mulai banyak digunakan di berbagai dokumen seperti akte tanah dan titah kerajaan. Memasuki akhir millenium pertama masehi, variasi kawi yang lebih kaligrafis mulai muncul bebarengan dengan berkembangnya sastra Jawa Kuno, terutama untuk karya kakawin. Seiring dengan meluasnya penggunaan aksara Kawi, gaya tulis Kawi berkembang menjadi berbagai macam dan penggunaannya juga merambah ke berbagai bahasa. Peninggalan beraksara Kawi telah ditemukan hingga sejauh Thailand (misal prasasti Grahi yang berbahasa Khmer kuno)[7][d] dan Filipina (misal Prasasti Lempeng Tembaga Laguna yang berbahasa Melayu kuno).[1][2][4] Setelah abad ke-16 M, berbagai ragam Kawi yang digunakan di seantero Nusantara bercabang menjadi macam-macam aksara turunan seperti aksara Bali, Batak, Baybayin, Jawa, Lontara, dan lainnya.[8][9][1]

Di antara turunan modern aksara Kawi, aksara Bali dan Jawa menunjukkan keselarasan paling kentara dan keduanya masih bisa digunakan untuk menulis Bahasa Sanskreta dengan cukup akurat sebagaimana aksara Kawi. Aksara Bali dan Jawa masih memiliki turunan huruf Kawi untuk bunyi khusus Sanskreta (seperti konsonan terhembus, konsonan gelung, dan vokal panjang), meski huruf-huruf tersebut sering berubah fungsi atau jarang digunakan dalam tulisan selain Sanskreta. Hal ini berbeda dengan aksara turunan Kawi lainnya, yang seringkali pengalami pengurangan jumlah huruf sehingga tidak lagi mampu menuliskan Sanskreta namun menjadi lebih efisien dalam menuliskan sistem suara dari bahasa-bahasa Austronesia pribumi.[10]

Ciri-ciri

[sunting | sunting sumber]
BERJAYA
Beberapa contoh dasar penulisan Kawi.

Aksara Kawi adalah sejenis abugida dengan dasar aturan tulis yang umum ditemukan pada rumpun aksara Brahmi:[1]

  • Tiap aksara dasar mewakili suku kata yang terdiri dari konsonan dan vokal bawaan /a/ (misal 𑼒 /ka/)
  • Tiap aksara konsonan memiliki bentuk pasangan untuk menuliskan klaster konsonan (misal 𑼒 /ka/ → 𑼒𑽂𑼒 /kka/, 𑼫 /ya/ → 𑼒𑽂𑼫 /kya/).
  • Tiap vokal dapat ditulis dengan dua cara, sebagai karakter mandiri (misal 𑼆 /i/) dan tanda bacaan/diakritik yang harus menempel pada karakter (misal ◌𑼶 /-i/). Tanda bacaan vokal digunakan untuk mengubah vokal bawaan dari aksara dasar (misal 𑼒 /ka/ → 𑼒𑼶 /ki/).[e]
  • Ketiadaan vokal ditandai dengan tanda bacaan pemati vokal yang dikenal sebagai wirama/halanta [en] dalam bahasa Sanskreta (misal 𑼒 /ka/ → 𑼒𑽁 /k/).[f]
  • Penyengauan dan penghembusan ditandai dengan tanda bacaan yang dikenal sebagai candrabindu [en] (◌𑼀), anuswara (◌𑼁), and wisarga (◌𑼃)[g] dalam bahasa Sanskreta.
  • Angka (dengan notasi posisional berbasis desimal) serta tanda baca umum digunakan.
  • Tanda bacaan nukta [en] (◌𑽚), untuk menandakan pelafalan asing di luar perbendaharaan Indik, mulai muncul di sejumlah peninggalan Kawi akhir.[12]
  • Tulisan Kawi disusun dari kiri ke kanan secara scriptio continua (tanpa spasi antar kata), meski terdapat sejumlah tulisan dekoratif yang ditulis dengan arah unik dari bawah ke atas.[13][14]

Beberapa ciri khusus Kawi (yang terutama lebih kentara pada tulisan berbahasa selain Sanskreta) meliputi:

  • Penggunaan tanda bacaan untuk bunyi vokal tengah madya/pepet pendek /ə/ (◌𑽀) dan panjang /əː/ (◌𑽀𑼴). Tanda ini tidak ada dalam sistem Sanskreta, tetapi padanannya dapat ditemukan di aksara-aksara turunan Kawi.[15]
  • Penggunaan anuswara and wisarga yang seringkali disederhanakan untuk menandai pengakhir /-ŋ/ and /-h/.
  • Terutama pada ragam Kawi akhir, perubahan fungsi tanda bacaan repha (𑼂) yang aslinya digunakan untuk menandakan pengawal /r-/ menjadi pengakhir /-r/.[16][17]
  • Penggunakan tanda bacaan vokal panjang tanpa aturan jelas yang tidak memengaruhi pengucapan, terutama dalam tulisan berbahasa non-Sanskreta. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena tidak diperlukannya pembedaan vokal panjang-pendek dalam kebanyakan bahasa pribumi Austronesia di Nusantara.[18][19]

Gaya tulis

[sunting | sunting sumber]

Dalam masa penggunaan yang merentang hingga 800 tahun, aksara Kawi menunjukkan ragam gaya tulis yang sangat beragam. Gaya 'standar' polos Kawi awal diwakili oleh peninggalan dari masa Rakai Kayuwangi (855–885 M) dan Balitung (898–910 M).[20] Epigrafer Belanda Johannes Gijsbertus de Casparis membagi Kawi yang berkembang belakangan ke dalam empat gaya:[21] Kawi dari masa Mpu Daksa (sekitar 910–918 M), Airlangga (sekitar 1020–1052 M), kemudian Kawi kwadrat ‘normal’ dan berhias dari masa Kerajaan Kediri (sekitar 1100–1222 M).

Namun begitu, patut dicatat bahwa peristilahan dan definisi dari gaya-gaya Kawi seringkali tidak akurat dan tidak konsisten antar-sumber, yang menjadi masalah umum dalam kajian aksara-aksara Asia Tenggara pra-modern.[22] Sebagai contoh, sementara De Casparis mengaitkan gaya Kawi kwadrat dengan Kerajaan Kediri, kajian terkini menemukan banyak contoh Kawi kwadrat dari masa sebelum berdirinya dan sesudah musnahnya Kediri, sehingga menjadi tidak tepat ketika gaya ini dikaitkan dengan Kediri semata.[23] Contoh lain adalah gaya khas Kawi yang banyak ditemukan di naskah gebang abad 14-16 M dari kabuyutan Jawa Barat, yang salah satu julukannya kini adalah 'aksara Buda.'[24] Sejumlah sarjana yang tidak puas dengan istilah saru 'Buda' telah menawarkan sejumlah istilah alternatif seperti “Quadrate Old Javanese,”[8] “Bold Semi-cursive Script of West Java,”[25] dan “Old (West) Javanese Quadratic.”[26]

Penggunaan

[sunting | sunting sumber]

Penggunaan aksara Kawi dapat ditemukan dalam berbagai jenis peninggalan sejarah. Tidak ada katalog yang memuat seluruh temuan beraksara Kawi, tetapi begitu terdapat sejumlah katalog temuan dari daerah yang sarat dengan peninggalan Kawi seperti Sumatra,[27] Jawa,[28][29][30] dan Bali.[31]

Prasasti batu adalah contoh peninggalan beraksara Kawi yang paling banyak, meliputi contoh Kawi tertua yang sejauh ini diketahui[32] seperti batu Kesongo (685 Śaka/763 M),[h] serta Prasasti Disunuh (709 Śaka/787 M),[i] hingga contoh yang memuat ragam Kawi akhir seperti prasasti Minye Tujoh dari Aceh (1380 M),[35] dan nisan Ahmat Majanu dari situs Pengkalan Kempas [en], Malaysia (1467 M).[36] Beberapa prasasti dipahat langsung pada bangunan, seperti prasasti pendek pada relief Karmavibhangga Borobudur.[37] Prasasti pada lempeng logam (meliputi timah-perunggu,[38] tembaga,[39] hingga emas[40]) juga banyak ditemukan dengan tulisan Kawi. Sebagian besar prasasti lempeng yang ditemukan di Jawa dan Bali adalah dokumen legal dan piagam sīma, semacam catatan peresmian tanah bebas pajak (sīma) yang dianugrahkan pejabat negeri (umumnya seorang raja) kepada individu atau sekelompok orang.[41][42] Selain dokumen legal, mantra keagamaan[38] dan kutukan[43] juga dapat ditemukan pada prasasti lempeng. Spesimen lempeng tertua yang sejauh ini diketahui adalah prasasti Munduan dari 807 M.[41] Sebuah contoh prasasti lempeng yang ditemukan di mancanegara adalah Prasasti Lempeng Tembaga Laguna, dari 822 Śaka/900 M, yang menjadi peninggalan tulisan tertua yang ditemukan di Filipina. Prasasti ini merekam penghapusan utang antara seorang bernama 𑼥𑼪𑽂𑼮𑽂𑼬𑼥𑽁 Namvaran dengan pejabat 𑼱𑼾𑼥𑼴𑼦𑼡𑼶 senapati dari daerah Tondo. Tulisan pada prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno dengan sejumlah istilah berbahasa Sanskreta, Jawa Kuno, serta Tagalog Kuno.[44][45]

Sejumlah tulisan Kawi akhir ditemukan dalam bentuk peninggalan naskah. Salah satu contoh menarik yang ditemukan di Sumatra adalah naskah Tanjung Tanah, dikenal juga sebagai Nītisārasamuccaya,[j] yang berisikan undang-undang hukum Melayu dari 1379–1387 M.[47][48][k] Di Jawa, terdapat dua situs penting yang banyak menyimpan naskah Kawi akhir. Situs pertama ialah lereng gunung Merapi-Merbabu, yang banyak menyimpan naskah lontar.[50][51] Beberapa judul tulisan yang ditemukan di koleksi ini meliputi Darmawarsa[52] dan Gita Sinangsaya.[53] Situs kedua adalah kabuyutan di dataran tinggi Jawa Barat, yang banyak menyimpan naskah gebang bertinta dengan aksara Buda.[54] Beberapa judul tulisan yang ditemukan di koleksi ini meliputi Sanghyang Siksa Kandang Karesian,[55] Dharma Patañjala,[56] Kakawin Arjunawiwaha,[57] dan Kuñjarakarna.[58]

Peralatan upacara, cap, dan koin

[sunting | sunting sumber]

Tulisan Kawi pendek juga dapat ditemukan dalam sejumlah artefak lepas. Sejumlah peralatan upacara perunggu ditemukan mengandung hiasan Kawi kwadrat. Pada peralatan seperti kentongan, tulisan ditemukan dalam cara penulisan unik yang dibaca dari bawah ke atas.[14] Perhiasan berupa cicin emas yang ditemukan di seantero Nusantara juga sering memiliki tulisan Kawi pendek. Pada beberapa cincin tersebut, tulisan Kawinya ditoreh secara tercermin, yang mengindikasikan penggunaan sebagai cap. Contoh cap sejenis telah ditemukan hingga sejauh Filipina, yang diwakili dengan cap gading Butuan [en].[59] Sejenis koin emas kecil yang kini dijuluki piloncitos [en] memuat aksara tunggal 𑼪 ma, kemungkinan besar merujuk pada satuan berat māṣa yang digunakan di Sumatra, Jawa, dan Bali.[60][61] Sejenis koin abad ke-16 M yang kemungkinan besar dicetak oleh Kesultanan Jambi memuat tulisan Kawi yang berbunyi 𑼦𑼖𑼾𑼬𑼥𑽂𑼬𑼡𑼸𑼲𑼶𑼁𑼙𑼪𑽂𑼨𑼶 pangeran ratu hiṃ jambi.[62]

Akṣara Wyañjana 𑼄𑼒𑽂𑼰𑼬𑼮𑽂𑼫𑼛𑽂𑼙𑼥
Wargaswara
𑼮𑼂𑼔𑽂𑼔𑼱𑽂𑼮𑼬
Nirswara 𑼥𑼶𑼂𑼱𑽂𑼮𑼬 Swara 𑼱𑽂𑼮𑼬 Anunāsika
𑼄𑼥𑼸𑼥𑼴𑼱𑼶𑼒
Ardhaswara
𑼄𑼂𑼤𑼱𑽂𑼮𑼬
Ūṣma
𑼉𑼰𑽂𑼪
Wisarga
𑼮𑼶𑼱𑼂𑼔𑽂𑼔
Gabungan
Alpaprāṇa
𑼄𑼭𑽂𑼦𑼦𑽂𑼬𑼴𑼠
Mahāprāṇa
𑼪𑼲𑼴𑼦𑽂𑼬𑼠
Alpaprāṇa
𑼄𑼭𑽂𑼦𑼦𑽂𑼬𑼴𑼠
Mahāprāṇa
𑼪𑼲𑼴𑼦𑽂𑼬𑼠
Kaṇṭya
𑼒𑼠𑽂𑼜𑽂𑼫
𑼒
ka
𑼓
kha
𑼔
ga
𑼕
gha
𑼖
ṅa/nga
𑼲
ha
Tālawya
𑼡𑼴𑼭𑼮𑽂𑼫
𑼗
ca
𑼘
cha
𑼙
ja
𑼚
jha
𑼛
ña/nya
𑼫
ya
𑼯
śa
𑼳
jña
Mūrdhanya
𑼪𑼹𑼂𑼤𑼥𑽂𑼫
𑼜
ṭa
𑼝
ṭha
𑼞
ḍa
𑼟
ḍha
𑼠
ṇa
𑼬
ra
𑼰
ṣa
Dantya
𑼣𑼥𑽂𑼡𑽂𑼫
𑼡
ta
𑼢
tha
𑼣
da
𑼤
dha
𑼥
na
𑼭
la
𑼱
sa
Oṣṭya
𑼐𑼰𑽂𑼜𑽂𑼫
𑼦
pa
𑼧
pha
𑼨
ba
𑼩
bha
𑼪
ma
𑼮
va/wa
Akṣara Swara 𑼄𑼒𑽂𑼰𑼬𑼱𑽂𑼮𑼬
Kaṇṭya
𑼒𑼠𑽂𑼜𑽂𑼫
Tālawya
𑼡𑼴𑼭𑼮𑽂𑼫
Oṣṭya
𑼐𑼰𑽂𑼜𑽂𑼫
Mūrdhanya
𑼪𑼹𑼂𑼤𑼥𑽂𑼫
Dantya
𑼣𑼥𑽂𑼡𑽂𑼫
Kaṇṭya-Tālawya
𑼒𑼠𑽂𑼜𑽂𑼫𑼡𑼴𑼭𑼮𑽂𑼫
Kaṇṭya-Oṣṭya
𑼒𑼠𑽂𑼜𑽂𑼫𑼐𑼰𑽂𑼜𑽂𑼫
Hrĕṣwa
𑼲𑼺𑼰𑽂𑼮
𑼄
a
𑼆
i
𑼈
u
𑼊
r̥/rĕ
𑼌
l̥/lĕ
𑼎
e
𑼐
o
𑼄𑽀
ə/ĕ
Dirgha
𑼣𑼶𑼂𑼕
𑼅
ā
𑼇
ī
𑼉
ū
𑼋
r̥̄/rö
𑼍
l̥̄/lö
𑼏
ai
𑼐𑼴
au
𑼄𑽀𑼴
ə̄/ö
Tanda bacaan
Hrĕṣwa
𑼲𑼺𑼰𑽂𑼮
-
-a
𑼶
-i
𑼸
-u
𑼺
-r̥/rĕ
𑼾
-e
𑼾𑼴
-o
𑽀
-ĕ/ə
Dirgha
𑼣𑼶𑼂𑼕
𑼴
𑼷
𑼹
𑼺𑼴
-r̥̄/rö
𑼿
-ai
𑼿𑼴
𑽀𑼴
-ö/ə̄
Lainnya 𑼀
-m
𑼁
-ng
𑼂
r-/-r1
𑼃
-h
𑽁
pemati
Contoh penggunaan pada aksara /ka/
Hrĕṣwa
𑼲𑼺𑼰𑽂𑼮
𑼒
ka
𑼒𑼶
ki
𑼒𑼸
ku
𑼒𑼺
kr̥/krĕ
𑼒𑼾
ke
𑼒𑼾𑼴
ko
𑼒𑽀
kĕ/kə
Dirgha
𑼣𑼶𑼂𑼕
𑼒𑼴
𑼒𑼷
𑼒𑼹
𑼒𑼺𑼴
kr̥̄/krö
𑼒𑼿
kai
𑼒𑼿𑼴
𑼒𑽀𑼴
kö/ə̄
Lainnya 𑼒𑼀
kam
𑼒𑼁
kang
𑼂𑼒
rka/kar1
𑼒𑼃
kah
𑼒𑽁
k

^1 Pada aksara Kawi, tanda ini kebanyakan digunakan sebagai repha yang memberi awalan /r-/, tetapi pada Kawi akhir dan aksara turunannya, tanda ini beralih fungsi menjadi pengakhir /-r/.

Beberapa temuan lempeng emas beraksara Kawi (dikubur sebagai bagian dari upacara) memuat deret huruf mandiri mengikuti urutan standar Indik, yang kemungkinan merupakan unsur mantra. Urutan yang digunakan adalah sebagai berikut:[40]

Urutan aksara
a ā · i ī · u ū · r̥ r̥̄ · l̥ l̥̄ · e ai · o au · aṃ aḥ
𑼄𑼅 · 𑼆𑼇 · 𑼈𑼉 · 𑼊𑼋 · 𑼌𑼍 · 𑼎𑼏 · 𑼐𑼐𑼴 · 𑼄𑼁𑼄𑼃
ka kha ga gha ṅa · ca cha ja jha ña · ṭa ṭha ḍa ḍha ṇa · ta tha da dha na · pa pha ba bha ma · ya ra la wa · śa ṣa sa ha
𑼒𑼓𑼔𑼕𑼖 · 𑼗𑼘𑼙𑼚𑼛 · 𑼜𑼝𑼞𑼟𑼠 · 𑼡𑼢𑼣𑼤𑼥 · 𑼦𑼧𑼨𑼩𑼪 · 𑼫𑼬𑼭𑼮 · 𑼯𑼰𑼱𑼲

Perbandingan

[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah tabel huruf aksara Kawi, dan perbandingannya dengan aksara Bali dan aksara Jawa

Aksara wyañjana
ka kha ga gha ṅa/nga ca cha ja jha ña/nya ṭa ṭha ḍa ḍha ṇa ta tha da dha na pa pha ba bha ma ya ra la va/wa śa ṣa sa ha jña
Kawi 𑼒 𑼓 𑼔 𑼕 𑼖 𑼗 𑼘 𑼙 𑼚 𑼛 𑼜 𑼝 𑼞 𑼟 𑼠 𑼡 𑼢 𑼣 𑼤 𑼥 𑼦 𑼧 𑼨 𑼩 𑼪 𑼫 𑼬 𑼭 𑼮 𑼯 𑼰 𑼱 𑼲 𑼳
Bali
Jawa
Aksara swara
a ā i ī u ū r̥/rĕ r̥̄/rö l̥/lĕ l̥̄/lö e ai o au ə/ĕ ə̄/ö
Kawi 𑼄 𑼅 𑼆 𑼇 𑼈 𑼉 𑼊 𑼋 𑼌 𑼍 𑼎 𑼏 𑼐 𑼐𑼴 𑼄𑽀 𑼄𑽀𑼴
Bali ᬅᭂ ᬅᭃ
Jawa ꦄꦴ ꦈꦴ ꦉꦴ ꦎꦴ ꦄꦼ ꦄꦼꦴ
Tanda bacaan
-a -i -u -r̥/rĕ -r̥̄/rö -e -ai -o -au -ə/ĕ -ə̄/ö -m -ng r-/-r1 -h pemati
Kawi - 𑼴 𑼶 𑼷 𑼸 𑼹 𑼺 𑼺𑼴 𑼾 𑼿 𑼾𑼴 𑼿𑼴 𑽀 𑽀𑼴 𑼀 𑼁 𑼂 𑼃 𑽁
Bali - ᬿ
Jawa - ꦽꦴ ꦺꦴ ꦻꦴ ꦼꦴ
ka ki ku kr̥/krĕ kr̥̄/krö ke kai ko kau kə/kĕ kə̄/kö kam kang rka/kar1 kah k
Kawi 𑼒 𑼒𑼴 𑼒𑼶 𑼒𑼷 𑼒𑼸 𑼒𑼹 𑼒𑼺 𑼒𑼺𑼴 𑼒𑼾 𑼒𑼿 𑼒𑼾𑼴 𑼒𑼿𑼴 𑼒𑽀 𑼒𑽀𑼴 𑼒𑼀 𑼒𑼁 𑼂𑼒 𑼒𑼃 𑼒𑽁
Bali ᬓᬵ ᬓᬶ ᬓᬷ ᬓᬸ ᬓᬹ ᬓᬺ ᬓᬻ ᬓᬾ ᬓᬿ ᬓᭀ ᬓᭁ ᬓᭂ ᬓᭃ ᬓᬁ ᬓᬂ ᬓᬃ ᬓᬄ ᬓ᭄
Jawa ꦏꦴ ꦏꦶ ꦏꦷ ꦏꦸ ꦏꦹ ꦏꦽ ꦏꦽꦴ ꦏꦺ ꦏꦻ ꦏꦺꦴ ꦭꦻꦴ ꦏꦼ ꦏꦼꦴ ꦏꦀ ꦏꦁ ꦏꦂ ꦏꦃ ꦏ꧀

^1 Pada aksara Kawi, tanda ini kebanyakan digunakan sebagai repha yang memberi awalan /r-/, tetapi pada Kawi akhir dan aksara turunannya, tanda ini beralih fungsi menjadi pengakhir /-r/.

Angka
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
Kawi 𑽑
BERJAYA
𑽒
BERJAYA
𑽓
BERJAYA
𑽔
BERJAYA
𑽕
BERJAYA
𑽖
BERJAYA
𑽗
BERJAYA
𑽘
BERJAYA
𑽙
BERJAYA
𑽐
BERJAYA
Bali
Jawa

Sebuah proposal preliminer untuk menambahkan aksara Kawi dalam standar Unicode pertama kali dikirim oleh Anshuman Pandey kepada Unicode Technical Committee (Komite Teknis Unicode) pada tahun 2012.[63] Aksara Kawi kemudian resmi ditambahkan ke dalam Standar Unicode 15.0 pada September 2022 berdasarkan proposal revisi yang disusun Aditya Bayu Perdana dan Ilham Nurwansah.[64][65][1] Blok Unicode aksara Kawi meliputi nomor kode U+11F00–U+11F5F yang berisikan 86 karakter.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. Epigrafer Arlo Griffiths berpendapat bahwa nama 'Pallawa' kurang tepat karena penggunaan aksara ini tidak selalu berhubungan dengan Dinasti Pallawa India.[3][4]
  2. Contoh-contoh 'Pallawa' Asia Tenggara meliputi prasasati Đông Yên Châu (sekitar 350 M), prasasti Yūpa (sekitar abad ke-4 M), dan prasasti Ciaruteun (sekitar abad ke-5 M)
  3. Menunjukkan ciri bentuk untuk penulisan pada media batu keras.
  4. Although in this instance the Kawi script is termed as 'Old Sumatran.'
  5. Mirip dengan peran harakat pada abjad Arab.
  6. Mirip dengan peran harakat sukun pada abjad Arab.
  7. Bentuk wisarga khusus jihvāmūlīya dan upadhmānīya ditemukan di satu prasasti abad ke-9 M, prasasti Watu Genuk, namun belum ditemukan di peninggalan lain.[11]
  8. Ditemukan sekitar tahun 2004-2005 dekat jalan raya Salatiga-Tuntang-Bawen, di desa Kesongo, kecamatan Tuntang, kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sekarang disimpan di Museum Ronggowarsito, Semarang (no. koleksi 04.1135). Prasasti ini hanya memuat tanggal singkat śrī 685 Asuji 𑼯𑽂𑼬𑼷𑽖𑽘𑽕𑼄𑼱𑼸𑼙𑼶, namun begitu nama bulan asuji merupakan salah satu ciri khas tulisan berbahasa Jawa Kuno.[33]
  9. Ditemukan pengumpul batu bernama Wardi pada tahun 2018 di desa Kataan, kecamatan Ngadirejo, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.[34]
  10. Tanjung Tanah adalah nama desa di Kerinci, Jambi yang menyimpan naskah tersebut. Nītisārasamuccaya nama diri yang diutarakan dalam naskah.[46]
  11. Tanggalan pada Nītisārasamuccaya telah aus, namun tarikh penanggalannya telah dipersempit berdasarkan penanggalan karbon dan pembacaan parsial yang diusungkan Thomas Hunter.[49]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 Perdana & Nurwansah 2020.
  2. 1 2 De Casparis 1975.
  3. Griffiths, Arlo (2014). Lost Kingdoms: Hindu-Buddhist Sculpture of Early Southeast Asia. New York: The Metropolitan Museum of Art. hlm. 53–57. ISBN 9781588395245.
  4. 1 2 Silk 2015, hlm. 990.
  5. De Casparis 1975, hlm. 28.
  6. Hunter 1996, hlm. 7.
  7. de Casparis, J.G. (1967). "The Date of The Grahi Buddha" (PDF). Journal of the Siam Society. 55 (1): 31–40.
  8. 1 2 Holle 1882.
  9. Hunter 1996.
  10. Hunter 1996, hlm. 11-12.
  11. Perdana 2024.
  12. Nasrullah, Febri Muhammad (2022). "Proposal to encode KAWI SIGN NUKTA" (PDF). Unicode Document Registry. Unicode.
  13. Perdana & Nurwansah 2020, hlm. 29.
  14. 1 2 Griffiths & Scheurleer 2014.
  15. Perdana & Nurwansah 2020, hlm. 2.
  16. Perdana & Nurwansah 2020, hlm. 6-7.
  17. Lindenberg, Norbert (6 December 2020). "Repha representation for Kawi" (PDF). Unicode Document Registry. Unicode. Diakses tanggal 28 March 2026.
  18. Perdana 2022, hlm. 363.
  19. Kozok et al 2015, hlm. 178-180.
  20. De Casparis 1975, hlm. 33.
  21. De Casparis 1975, hlm. 38.
  22. Silk 2015, hlm. 989.
  23. Nastiti, Titi Surti (2017). "The Development of Kwadrat Script in Central Java, East Java and Bali: Paleography Analysis". Forum Arkeologi. 29 (3): 175–188. doi:10.24832/fa.v29i3.94.
  24. Van der Molen, Willem (1983). Javaanse Tekskritiek; Een overzicht en een nieuwe benadering geillustreerd aan de Kunjarakarna (PhD thesis). Leiden: Leiden University. hlm. 115–116.
  25. Pigeaud, Th. (1980). Literature of Java: Catalogue raisonné of Javanese manuscripts in the Library of the University of Leiden and other public collections in the Netherlands. Vol. 4: Supplement. Leiden: Leiden University Press. hlm. 247. ISBN 978-90-6021-453-4.
  26. Acri, Andrea (2011). "Javanese Manuscripts of the Tattvajñāna". Dalam Lokesh Chandra, Manjushree (ed.). From Beyond the Eastern Horizon: Essays in honour of Professor Lokesh Chandra. hlm. 121. ISBN 978-81-7742-109-5.
  27. Griffiths 2011.
  28. De Casparis 1950.
  29. Nastiti et al 2023.
  30. Nastiti et al 2024.
  31. Goris 1950.
  32. Griffiths et al 2025.
  33. Griffiths et al 2025, hlm. 335.
  34. Griffiths et al 2025, hlm. 336.
  35. Van der Molen 2007.
  36. De Casparis 1980.
  37. Kern, H. (917). "Over de Bischriften op het Beeldhouwwerk van Boro-budur". Verspreide Geschriften. 7: 145–156.
  38. 1 2 Griffiths 2014a.
  39. Andhifani et al 2025.
  40. 1 2 Perdana & Nurwansah 2020, hlm. 30.
  41. 1 2 Clavé & Griffiths 2011, hlm. 169.
  42. Griffiths 2020.
  43. Van der Veerdonk 2001.
  44. Postma, Antoon (April–June 1992). "The Laguna Copper-Plate Inscription: Text and Commentary" (PDF). Philippine Studies. 40 (2). Ateneo de Manila University: 182–203. JSTOR 42633308.
  45. Clavé & Griffiths 2011.
  46. Kozok 2004, hlm. 21.
  47. Kozok 2004.
  48. Kozok et al 2015.
  49. Kozok et al 2015, hlm. 300.
  50. Setyawati, Kartika (7 June 2013). "Naskah-Naskah Merapi-Merbabu Koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia: Tinjauan Awal". Jurnal Humaniora (1). doi:10.22146/jh.1987 (tidak aktif 11 July 2025). ISSN 2302-9269. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
  51. Kriswanto, Agung (1 July 2019). "Naskah-naskah Keislaman dari Skriptorium Merapi-Merbabu di Perpustakaan Nasional". Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara (dalam bahasa American English). 10 (1): 24–45. doi:10.37014/jumantara.v10i1.23. ISSN 2685-7391. S2CID 213786098.
  52. Anjani, Anggita (2019). Lontar Darmawarsa: Edisi Teks dan Terjemahan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI bekerjasama dengan Manassa. ISBN 9786232001527.
  53. Kriswanto, Agung (2012). Gita Sinangsaya: edisi teks dan terjemahan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. ISBN 978-979-008-475-9.
  54. Gunawan, Aditia (1 January 2015). "Nipah or Gebang?: A Philological and Codicological Study Based on Sources from West Java". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). 171 (2–3): 249–280. doi:10.1163/22134379-17101004. ISSN 0006-2294.
  55. Danasasmita, Saleh (1987). Sewaka darma (Kropak 408); Sanghyang siksakandang karesian (Kropak 630); Amanat Galunggung (Kropak 632): transkripsi dan terjemahan. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  56. Acri 2018.
  57. Wiryamartana, I. Kuntara (1990). Arjunawiwāha: transformasi teks Jawa Kuna lewat tanggapan dan penciptaan di lingkungan sastra Jawa. Duta Wacana University Press. ISBN 978-979-8139-07-9.
  58. Van der Molen, Willem (2011). Kritik Teks Jawa: Sebuah pemandangan Umum dan Pendekatan Baru yang Diterapkan Kepada Kunjarakarna. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-787-8.
  59. Gallop, Annabel Teh (2016). "The Early Use of Seals in the Malay World". Bulletin de l'École française d'Extrême-Orient. 102: 131–135. doi:10.3406/befeo.2016.6233.
  60. Perdana 2022, hlm. 364.
  61. Wisseman Christie, Jan (1996). "Money and its uses in the Javanese States of the ninth to fifteenth centuries A.D". Journal of the Economic and Social History of the Orient. 39 (3): 257–260.
  62. Perdana 2022.
  63. Pandey, Anshuman (2012). "Preliminary Proposal to Encode the Kawi Script" (PDF). Unicode Document Registry. Unicode.
  64. "Unicode® 15.0.0". Unicode Consortium. 2022-09-13. Diakses tanggal 2022-09-13.
  65. Unicode Technical Committee 2021. Approved Minutes of UTC Meeting 166

Daftar Pustaka

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]